Wisudawan Terbaik Arsitektur Jawab Masalah Pemukiman dengan Sustainable Architecture

3.10.18.-ok.-Wisudawan-Terbaik-Arsitektur-Jawab-Masalah-Pemukiman-dengan-Sustainable-Archtecture

Kebutuhan akan perumahan bagi masyarakat Malang sangat tinggi. Padahal lahan semakin terbatas dan harganya cukup mahal. Ini mengakibatkan timbulnya berbagai permasalahan, salah satunya munculnya pemukiman kumuh dan liar. Alasan inilah yang membuat Aloysius Yanuardi Setya Purnama atau yang biasa disapa Ardi tertarik untuk merancang rumah susun. Namun tidak sembarang rumah susun, melainkan rumah susun yang memperhatikan sustainable architecture.

Sustainable Architecture diangkat oleh Ardi karena berbagai pertimbangan. Diantaranya rumah susun yang ada selama ini kurang layak huni dan relatif tidak menyelesaikan permasalahan yang ada seperti, perkembangan ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sosial bagi penghuni rusun.

“Rusun yang ada di Malang selama ini kurang memperhatikan aspek sustainable. Kebanyakan hanya sekedar menyediakan tempat tinggal dan tidak memperhatikan aspek lainnya,” terang wisudawan terbaik Arsitektur S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang ini.

Dari pertimbangan itulah pemilik IPK 3.34 ini merancang “Rumah Susun Sederhana Sewa di Kota Malang dengan Tema Sustainable Architecture”, yang sekaligus dia angkat sebagai tugas akhir.

”Sustainable architecture tidak hanya membahas masalah lingkungan namun juga masyarakat, sosial dan budaya. Sehingga ada interaksi antar warga penghuni rumah susun,” katanya.

3.10.18.-ok.-Wisudawan-Terbaik-Arsitektur-Jawab-Masalah-Pemukiman-dengan-Sustainable-Archtecture-2-732x287

Di lahan seluas 2.3 ha Ardi merencanakan mendirikan rumah susun sebanyak 300 unit lengkap dengan area publik. Seperti masjid, lapangan sepak bola dan tempat berdagang di depan rumah susun. Fasilitas ini sangat menarik karena rumah susun belum menyertakan fasilitas penunjang selama ini. “Tempat berdagang nantinya bisa untuk berjualan makanan dan kebutuhan warga, tidak hanya warga rumah rusun namun juga warga sekitar,” tambahnya.

Di bidang sosial bisa dilihat dari peletakan bangunan rumah susun. Unit rumah susun dibuat berdampingan, dimana setiap depan pintu disediakan tempat duduk untuk berinteraksi.
Pintu juga diposisikan berdekatan, sehingga saat keluar masuk sesama penghuni bisa bertegur sapa. untuk berkumpul juga disediakan space di tiap lantainya. Keasrian rumah susun akan terjaga karena ada taman-taman kecil di depan tiap unit yang berfungsi untuk menaman sayuran.

Berbekal pengalamannya bekerja di InArch Design Malang mulai semester 3, Ardi terbiasa membuat detail setiap interior yang ia buat. Begitupula dengan rumah susun lima lantai ini dia buat dengan memperhatikan pencahayaan, sirkulasi udara, serta tempat pembuangan sampah yang terintegrasi. Tempat sampah ini ada dalam tiap unit, terpisahkan antara sampah organik dan anorganik. Sampah yang dibuang nantinya akan langsung turun ke bawah dan masuk ke penampungan.

3.10.18.-ok.-Wisudawan-Terbaik-Arsitektur-Jawab-Masalah-Pemukiman-dengan-Sustainable-Archtecture-3

“Selama ini-kan sampah dijadikan satu dan menumpuk, jadi tukang sampahnya malas memilah-milah. Kalau dari tiap unit sudah dipisah akan memudahkan dalam mendaur ulang,” katanya.

Sedangkan untuk pencahayaan dan udara dibuat cendela yang cukup lebar sehingga meminimalkan penggunaan listrik di siang hari. “Penggunaan listrik di tiap unit tidak semua dari PLN, namun saya beri panel sulya. Jadi untuk masa yang akan datang bisa berkelanjutan,” terangnya yang selama kuliah pernah menjadi tim pembuat interior Block Office Pemkot Batu dan beberapa kantor pemerintah. (mer/humas)

image_pdfDownload PDF Versionimage_printPrint Page