Pameran karya arsitektur ITN Malang diikuti oleh karya terbaik mahasiswa tiap angkatan. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Menghabiskan sore, menikmati kudapan, dan segelas minuman sembari mengamati pameran karya arsitektur sungguh sebuah keniscayaan. Visualisasi itu yang menginspirasi pameran Karya Arsitektur (PAKAR) 2023 yang kembali dihelat oleh Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HMA), Prodi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional (ITN Malang). Event tahunan yang sebelumnya bertempat di Aula Kampus 1 ITN Malang, tahun ini untuk kali pertama diselenggarakan di Café Nyore, Tunggulwulung, Lowokwaru, Kota Malang, pada Kamis-Jumat (13-14/72023).

Hadir dalam acara pembukaan, Sekprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., pembina HMA Amar Rizky Afdholy, ST., MT., para dosen, mahasiswa Arsitektur ITN Malang serta mahasiswa arsitek dari kampus lain seperti UB, UIN, STT, dan UNMER.

Sekprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., mengapresiasi pameran karya yang tidak hanya digelar di luar kampus, namun juga karya-karya yang dipamerkan. Karya yang dipamerkan bukan saja karya dari mahasiswa angkatan lama, namun juga karya mahasiswa semester dua.

Baca juga : Jaring Talent Baru UKM Format ITN Malang Pamerkan Foto Navdeep

“Hari ini kita ke luar dari ‘kandang’ ya. Dan saya sangat mengapresiasi sekali bahwa kalian semangat memamerkan karya kalian meskipun baru semester awal. Saya acungi empat jempol untuk kalian. Jangan pernah berkecil hati dan harus bangga pada karya sendiri, yang bisa bersaing dengan kakak-kakak tingkat maupun dengan kampus lain,” ucap Debby memberi semangat.

Sementara itu, menurut dosen pembina HMA Amar Rizky Afdholy, ST., MT., materi yang dipamerkan adalah kumpulan beragam tugas kearsitekturan pilihan yang meliputi estetika bentuk, perancangan arsitek, sketsa, tugas akhir (skripsi), poster, maket MBKM, dan tugas struktur lanjut.

Mahasiswa Arsitektur ITN Malang menggelar pameran karya “Tanpa Batas”, di Café Nyore, Tunggulwulung, Lowokwaru, Kota Malang, Kamis-Jumat (13-14/72023). (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

“Sebelumnya kami sudah pameran karya untuk yang PA 1 (perancangan arsitektur) di kampus. Nah, ini (karya) yang bagus-bagus kami pilih kembali untuk dipamerkan di sini. Jadi kami ambil karya-karya yang mewakili tugas perangkatan,” papar Amar.

Seperti dinyatakan oleh ketua panitia, Simeon Rosario Jaka Busa Wedhu, pameran karya diberi nama “Tanpa Batas”. Filosofis dari nama ini adalah melahirkan karya yang menafikan aturan dan batasan, sehingga mahasiswa bebas berkreasi out of the box. Pun dengan tempat penyelenggaraan di luar kampus. Jika diselenggarakan di dalam kampus maka pengunjung tidak akan bebas, karena dibatasi oleh aturan yang ditetapkan pihak kampus.

“Kami gelar karya di luar kampus harapannya bisa lebih banyak menjangkau pengunjung dari luar ITN Malang. Kalau di dalam kampus beberapa pengunjung merasa enggan dengan batasan dan aturan. Misalnya jam berkunjung, kesopanan, dll,“ papar Rio ketika ditemui di tengah kesibukannya menyiapkan pameran.

Baca juga : Mahasiswa Arsitektur Gelar “Nata Karya” Pameran Perdana Perancangan Arsitektur

Lebih lanjut mahasiswa semester 6 ini menjelaskan, acara pameran juga diwarnai dengan gelar wicara (talk show) dimana pematerinya adalah alumni ITN Malang, yaitu, Ar. Rahmad Zuhdi, dan Rena Felani. Mereka merupakan arsitek profesional yang tergabung dalam IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) dan IAAI (Ikatan Alumni Arsitektur Institut Teknologi Nasional malang). Dengan pembawaan yang santai namun serius keduanya memberikan paparan tentang bagaimana menjadi seorang professional architect dengan menampilkan beberapa project yang mereka kerjakan. Mahasiswa juga mengikuti sesi gelar wicara yang mengambil tema Changing the Concept of Thinking to be Futuristic dengan melontarkan beberapa pertanyaan.

Selain gelar wicara, panitia juga menggelar acara sketch on the spot bagi pengunjung. Sembari mendengarkan diskusi dan sharing pengalaman, beberapa pengunjung tampak sibuk membuat coretan coretan tentang segala object ruang di café. (Rini Anjarwati/Humas ITN Malang)

Leave a Comment