Mahasiswa ITN Malang didampingi Ir. Budi Fathony, MT, dosen Arsitektur ITN Malang (berdiri) membuat replika stadsklok di Malang Creative Center (MCC). (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Belajar di luar kelas memang mengasikkan. Hal ini yang dilakukan oleh sekitar 50 mahasiswa Prodi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Mahasiswa angkatan 2022 dan 2023 ini mengikuti kuliah lapangan dengan mengunjungi Malang Creative Center (MCC) pada pekan kedua Januari 2024 lalu.

Ir. Budi Fathony, MT, dosen Arsitektur ITN Malang mengatakan, kunjungan ke rumah bagi aktivitas pelaku ekonomi kreatif (MCC) ini menjadi kuliah episode kedua bagi mata kuliah pengantar arsitektur. Setelah sebelumnya mereka melihat secara langsung perkembangan arsitektur Kota Malang dengan berkeliling kota mengendarai Bus Malang City Tour (Macito).

“Kota Malang kan punya MCC yang patut diketahui, dan dimanfaatkan keberadaannya oleh masyarakat (mahasiswa). Di sini mereka bisa mendapatkan gambaran tentang sejarah Kota Malang dan perkembangannya. Mereka juga mendapatkan ilmu baru dengan membuat replika stadsklok dari limbah plastik,” ujar Budi saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang beberapa waktu lalu.

Menurut Budi, di MCC mahasiswa bisa belajar sejarah dan perkembangan Kota Malang secara digital. Melihat landmark Kota Malang sebagai bagian dari kuliah pengantar arsitektur. Sementara, belajar membuat replika stadsklok menjadi representasi dari mata kuliah estetika bentuk (esben). Uniknya mahasiswa belajar langsung dari kreator-nya.

Baca juga : Nata Karya 2.0 Pamerkan 160 Karya Mahasiswa Arsitektur Hingga Undang Klien

“Ketika kuliah di luar kampus maka mahasiswa akan terbuka wawasannya kedepan. Dengan begitu mahasiswa mendapat semangat, motivasi, membangun komunikasi dengan komunitas, serta menjadi agen komunikasi bahwa di MCC mereka bisa belajar banyak hal,” lanjut Budi.

Mahasiswa ITN Malang sedang belajar sejarah dan perkembangan Kota Malang secara digital di Malang Creative Center (MCC). (Foto: Istimewa)

Replika stadsklok merupakan replika ikon jam Kota Malang dengan desain kolonial. Stadsklok sebagai landmark di depan PLN Kayutangan, di Jalan Basuki Rahmat. Replika stadsklok terbuat dari sampah plastik, dibuat oleh Desainer Sampah Kota Malang, M Taufiq Shaleh Saguanto, dan menjadi souvenir khas Kota Malang.

Salah satu mahasiswa arsitektur yang ikut belajar membuat replika adalah Even Andiyanto. Mahasiswa angkatan 2023 ini mengungkapkan antusiasmenya. Menurutnya, kegiatan tersebut sangat edukatif. Belajar membuat replika bisa menjadi pembelajaran mengenai nilai arsitektur dari suatu bentuk bangunan. Apalagi bangun tersebut merupakan bangunan bersejarah Kota Malang.

“Kegiatan ini juga merupakan kegiatan yang mengusung konsep recycle. Replika dibuat menggunakan bahan botol bekas, dan beberapa komponen lainnya juga menggunakan bahan bekas sebagai media utamanya. Kami membuat replika dipandu langsung oleh Mas Taufiq Saguanto (biasa disapa),” kata mahasiswa asal Banyuwangi ini.

Baca juga : Soofiyah Dhiya Ulhaq Buat Bio Briket dari Bambu dan Kubis Solusi Atasi Krisis Energi

Masih kata Even, tak lepas dari itu semua Mas Taufiq Saguanto, Owner Hot Bottles Recycle Company banyak memberikan edukasi mengenai daur ulang sampah. Bahkan daur ulang sampah bisa menjadi ladang berbisnis bagi orang-orang kreatif untuk mengelola sampah sesuai pemikiran kreatifitas masing-masing.

“Bisa memberikan inspirasi bagi kami sebagai mahasiswa,” ucapnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

2 Comments

Leave a Comment